Pertamina Patra Niaga Gelar Sosialisasi Pengelolaan Sampah Berkelanjutan di Kampung Baru Tiga, Bandar Lampung

Majalah Bandar Lampung – Dalam rangka mengatasi permasalahan lingkungan, khususnya terkait dengan tingginya volume sampah, Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel melalui Integrated Terminal (IT) Panjang menggelar program sosialisasi kesadaran sampah berbasis lingkungan di Kampung Baru Tiga, Kelurahan Panjang Utara, Kecamatan Panjang, Kota Bandar Lampung. Program ini bertujuan untuk memberdayakan masyarakat di kawasan yang termasuk dalam Ring 1 Pertamina IT Panjang dengan pendekatan pengelolaan sampah yang berkelanjutan. Kegiatan yang dilaksanakan bersama Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bandar Lampung ini melibatkan berbagai elemen masyarakat, di antaranya kelompok Ecobrick, kelompok Ruggot (Budidaya Maggot), dan Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB), yang merupakan bagian dari program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Pertamina. Pendekatan ini menunjukkan komitmen perusahaan untuk menciptakan dampak positif yang berkelanjutan, baik bagi lingkungan maupun ekonomi masyarakat setempat.
Baca Juga : Wali Kota Bandar Lampung Hj. Eva Dwiana Melepas Jamaah Umroh Tahun 2025
Masalah Sampah dan Dampaknya pada Lingkungan
Inisiatif ini muncul sebagai respons terhadap keresahan masyarakat Kampung Baru Tiga mengenai permasalahan sampah yang semakin parah. Berdasarkan hasil penelitian Institut Teknologi Sumatera (ITERA), timbulan sampah rumah tangga di Kecamatan Panjang, khususnya di Kampung Baru Tiga, tercatat mencapai lebih dari 23 ton setiap bulannya. Volume sampah yang sangat besar ini tidak hanya mengancam kesehatan lingkungan, tetapi juga menjadi salah satu penyebab utama terjadinya bencana banjir yang melanda kawasan tersebut pada Mei 2025.
Transformasi Mindset Masyarakat sebagai Kunci Keberhasilan
Kepala Sub Bagian Umum DLH Kota Bandar Lampung, Nasrobi Sagara, menekankan pentingnya perubahan pola pikir masyarakat dalam menangani masalah sampah. “Penanganan sampah yang efektif tidak hanya bergantung pada penyediaan infrastruktur seperti tempat sampah atau fasilitas daur ulang, tetapi lebih pada transformasi pola pikir dan perilaku masyarakat. Penting bagi kita untuk menumbuhkan kesadaran kolektif, agar masyarakat tidak lagi membuang sampah ke sungai atau laut. Dari kesadaran individual, kita bisa membangun gerakan bersama untuk menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan sehat,” ujar Nasrobi.
Inovasi Pengelolaan Sampah dengan Nilai Ekonomis
Peran serta masyarakat dalam pengelolaan sampah berkelanjutan sangat vital. Kesadaran masyarakat menjadi pondasi utama keberhasilan program ini. Inovasi yang dilakukan oleh kelompok masyarakat Kampung Baru Tiga, seperti pengolahan sampah anorganik menjadi ecobrick dan pemanfaatan sampah organik untuk budidaya maggot, diharapkan dapat memberikan nilai tambah ekonomi bagi komunitas lokal. Pendampingan dan dukungan dari program TJSL Pertamina juga akan mempercepat implementasi dan keberlanjutan dari inisiatif ini.
Apresiasi dari Masyarakat
Ketua Kelompok FPRB, Nur Rachmad, yang juga salah satu peserta sosialisasi, mengungkapkan rasa terima kasih dan harapan terhadap program ini. “Kami sangat berterima kasih kepada Pertamina dan DLH Kota Bandar Lampung atas program sosialisasi ini yang membuka wawasan masyarakat Panjang Utara tentang pentingnya tidak membuang sampah ke sungai atau laut. Harapan kami, inisiatif ini dapat menciptakan lingkungan yang bersih dan sehat secara berkelanjutan untuk generasi mendatang,” ungkap Nur Rachmad.
Komitmen Pertamina dalam Pengelolaan Lingkungan
Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel, Rusminto Wahyudi, menegaskan bahwa perusahaan berkomitmen untuk terus mendukung program-program pengelolaan sampah sebagai bagian dari tanggung jawab sosialnya. “Penanganan sampah yang efektif dimulai dengan kesadaran kolektif. Ketika setiap individu merasa bertanggung jawab atas jejak sampahnya, barulah kita dapat mewujudkan lingkungan yang bersih dan sehat. Oleh karena itu, penanganan sampah merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta,” ujar Rusminto.
Program ini, lanjut Rusminto, diharapkan dapat menjadi model replikasi bagi kawasan lain dalam mengatasi tantangan pengelolaan sampah di era modern. “Dengan pendekatan edukasi, pemberdayaan ekonomi, dan pelestarian lingkungan, kami berharap program ini bisa memberikan dampak positif yang berkelanjutan dan memperkuat ekosistem sosial-ekonomi di kawasan ini,” tambahnya.





